Nama beliau adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdil Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrahi bin Ka”ab bin Luay. Ia merupakan sepupu sekligus menantu Rasulullah Saw. Ketika lahir, Fatimah binti Asad (Ibunya) memberinya nama Haidar yang berarti “Singa”, namun Abu Thalib (Ayahnya) lebih senang menamainya Ali yang bermakna “Tinggi dan luhur”.
Secara fisik, Ali bin Abi Thalib digambarkan sebagai sosok yang memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar dan berwarna kemerah-merahan, berperawakan pendek dan berjanggut lebat, dada dan kedua pundak beliau padat, beliau memiliki bulu dada yang lebat, berwajah tampan dan memiliki gigi yang bagus, serta ringan langkah saat berjalan.
Sejak kecil, Ali bin Abi Thalib telah berada di bawah pengasuhan Rasulullah Saw. yang merawatnya bersama Khadijah binti Khuwailid. Hal ini membuat Ali tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, pemberani, tegas, pemurah, serta lemah lembut.
Ali bin Abi Thalib adalah orang ketiga yang memeluk Islam, saat usianya masih 10 tahun. Hal ini membuatnya menjadi anak-anak pertama yang masuk Islam, dan termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun. Ia dikenal sangat cerdas dan paham tentang Al-Quran serta sunnah, karena mendapat pengajaran langsung dari Rasulullah Saw. Di masa Khulafaurrasyidin, ia juga sering dimintai pendapat oleh para sahabat dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.
Dalam perjuangan dakwah Islam, Ali bin Abi Thalib juga terlibat langsung dalam berbagai momen penting baik pada periode Mekkah maupun Madinah. Misalnya saat Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah, Ali dengan berani menggantikannya di tempat tidur saat para pemuda Quraish mengepung rumah dan siap membunuh Rasulullah Saw.
Ali bin Abi Thalib juga selalu turut serta dalam setiap peperangan yang dilakukan kaum muslimin, kecuali pada saat Perang Tabuk. Saat itu, Rasulullah Saw. meminta Ali bin Abi Thalib untuk tetap berada di Madinah, dan menyuruhnya mengurus berbagai keperluan warga kota Madinah. Ketika peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, Ali pun mengambil peran sebagai juru tulis saat Rasulullah Saw. dan utusan kaum kafir Quraish mengadakan negosiasi.
Di Madinah, Ali bin Abi Thalib menjadi petani. Ia pun menikah dengan Fatimah Az-Zahro (Putri Rasulullah Saw.) sepulangnya dari perang Badar pada tahun 2 H. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua putra bernama Hasan dan Husain, serta dua putri bernama Zainab dan Ummu Kaltsum.
Dalam kesehariannya, Ali bin Abi Thalib bersama keluarga hidup sederhana. Meskipun tak termasuk hartawan, Ali bin Abi Thalib sangat gemar berbagi. Bahkan pernah mereka sekeluarga rela menahan lapar karena bersedekah kepada fakir miskin, demi mengutamakan orang lain yang lebih membutuhkan.
Di medan perang, Ali dikenal sebagai sosok yang tegas dan keras. Namun, sifat lemah lembut dan kasih sayangnya juga begitu sangat nampak. Ia tak pernah membunuh musuh yang tak berdaya. Bahkan ia pernah melepaskan musuh yang meludahinya, karena khawatir emosi membuatnya gelap mata membunuh karena rasa amarah.
Ali bin Abi Thalib meninggal pada usia 63 tahun. Ia wafat setelah ditikam oleh Abdurrahman bin Amru (Ibnu Muljam) pada 17 Ramadan 40 H ketika hendak melaksanakan salat subuh, dan dimakamkan di Kufah.
Sumber:
- Katsir, Ibnu. Tartib wa Tahdzib Al-Kitab bidayah wan Nihayah. Usman, Muhammad Ahsam. 2021. Ali bin Abi Thalib; Biografi dan Pengangkatan Beliau Sebagai Khalifa. Yogyakarta: Hikam Pustaka.
- Tsuroyya, Elfa. 2022. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah.
- Ula, Miftachul dkk. Sejarah Kebudayaan Islam – Studi & Pengajaran Islam. Jakarta: Kementerian Agama.
- Usman, K. 2015. Ali bin Abi Thalib: Ahli Perang dan Pintu Gerbang Ilmu. Jakarta: PT. Luxima Metro Media.