Bahaya Laten Ego yang Tak Terkendali
Catatan ini ditulis oleh Ahmad Syarif Sulaeman pada tanggal 26 Mei 2026. Terdiri dari 1200 kata dengan estimasi waktu baca 6 menit.
Tariq mengusap wajahnya yang kuyu. Ia duduk bersila di sudut musala, menjauh dari jendela yang terus menerus mengantarkan suara riuh suporter futsal dari lapangan. Di depannya, layar ponsel menyala redup, terus-menerus memuntahkan pesan dari grup angkatan.
Ia membalikkan ponselnya hingga layarnya mencium karpet. Gelap. Namun, diam di sudut musala tidak lantas membuat desakan itu hilang. Lima temannya di sekeliling lingkaran hanya menunduk, sama-sama tertekan oleh satu aturan tidak tertulis: di lingkungan ini, bersikap netral dianggap sebuah pengkhianatan. Kau harus memihak, atau kau akan digilas.
Tekanan menuntut loyalitas yang mencekik itu punya akar panjang dalam sejarah. Ia merayap jauh, melewati dinding madrasah, melintasi benua, hingga membentur udara dingin di pegunungan Ardabil, Persia, tujuh abad yang lalu.
Di masa ketika kekaisaran Mongol hancur lebur, tanah Persia menjadi panggung bagi mereka yang gila kuasa. Para penguasa lokal saling menerkam, memeras petani, dan membakar wilayah lawan demi secuil hegemoni politik. Rakyat biasa dipaksa memihak kubu-kubu militer yang bertikai, terjepit di antara ketakutan dan ancaman kelaparan.
Di tengah kebisingan politik yang brutal itulah seorang sufi bernama Safiuddin Ishak berdiri. Alih-alih ikut mengangkat senjata atau memihak para tiran, ia menarik diri. Ia membangun sebuah majelis zikir yang sederhana. Ruang itu bernama Tarekat Syafawiyah.
Tarekat itu dengan cepat menjadi tempat pelarian. Orang-orang miskin, mantan serdadu, hingga petani yang lelah ditekan oleh penguasa, berbondong-bondong datang ke padepokan Safiuddin. Di sana, mereka menukar ego dan rasa takut dengan jubah kain kasar. Tidak ada doktrin untuk membenci kelompok lain. Hanya ada suara napas panjang dan irama zikir yang menyatukan mereka dalam kesunyian yang utuh. Safiuddin menciptakan suaka yang murni, lepas dari hiruk-pikuk perebutan takhta dunia.
Namun, kedamaian murni seperti itu selalu memancing kemarahan mereka yang gila kendali. Baik di Persia abad ke-14 maupun di lorong-lorong madrasah hari ini, sebuah kelompok yang tenang selalu dilihat sebagai ancaman—atau lebih buruk lagi, alat yang potensial untuk dimanfaatkan.
Suara bantingan daun pintu musala menyentak pundak Tariq.
Raka, pentolan angkatan mereka, melangkah masuk tanpa melepas sepatunya. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah lingkaran Tariq yang diam. Ia merogoh saku jaketnya, lalu melempar sebuah spidol merah menyala tepat ke tengah karpet.
“Kalian masih mau sok suci baca buku di sini sementara anak-anak lain lagi berjuang buat nama baik kelas kita?” desis Raka sambil menuding spidol merah itu. “Kita butuh pasukan. Ambil spidol itu, coret tembok markas kelas sebelah. Buktikan kesetiaan kalian.”
Spidol merah yang menggelinding menabrak lutut Tariq itu bagai menggemakan ulang sebuah tragedi lama.
Tragedi yang sama ketika suaka kedamaian Syafawiyah mulai diracuni ambisi. Ruang zikir yang steril perlahan disusupi angin provokasi ketika kepemimpinan beralih ke tangan Syekh Junayd, dan memuncak pada masa putranya, Haidar. Tarekat yang dulunya menampung pelarian, kini mulai bersinggungan langsung dengan perebutan kuasa antara suku Turkmen yang beringas—Kara Koyunlu (Domba Hitam) dan Ak Koyunlu (Domba Putih).

Di bawah komando Haidar, ajaran spiritual itu dibajak paksa. Ia menyingkirkan jubah kain kasar yang diwariskan leluhurnya dan mulai membagikan senjata. Kepada para pengikutnya yang lugu, ia memakaikan penutup kepala berwarna merah dengan dua belas lipatan. Dalam sekejap, jamaah pengajian itu bertransformasi menjadi barisan paramiliter fanatik bernama Qizilbash—Pasukan Baret Merah. Mereka dipaksa melupakan zikir dan doktrin cinta damai, diganti dengan dogma bahwa memusnahkan rival politik adalah sebuah perjuangan suci. Kesetiaan tak lagi diukur dari kemurnian hati, tapi dari seberapa loyal mereka menghancurkan lawan.
Tariq menatap spidol merah di lututnya. Tuntutan Raka bergema di dinding musala, sama kerasnya dengan perintah Haidar kepada pasukan Qizilbash: buktikan kesetiaanmu, meski kau harus membuang nuranimu sendiri.
Spidol merah itu terasa panas di kulit karpet. Raka tidak datang untuk berdiskusi; ia datang menagih upeti berupa nyali.
“Raka, ini cuma urusan bola, bukan perang,” ucap Tariq memecah keheningan, suaranya mencoba stabil meski jantungnya memukul keras tulang rusuk. “Kita nggak perlu sampai ngerusak fasilitas sekolah buat ngebuktiin loyalitas.”
“Cuma bola?” Raka tertawa merendahkan. “Ini soal hegemoni, Tariq. Kalau kita mundur sekarang, angkatan kita bakal diinjak sampai lulus. Kalau kalian pikir bisa aman sembunyi di musala ini, kalian salah. Ambil spidolnya.”
Di musala, salah satu teman Tariq perlahan mengulurkan tangannya yang gemetar, berniat mengambil spidol merah yang disodorkan Raka. Tekanan kerumunan rupanya berhasil meruntuhkan akal sehat.
Dunia memang sering mengajari kita bahwa idealisme butuh taring untuk bertahan. Ketika krisis memuncak, panggung sejarah selalu melahirkan sosok yang bersedia menggunakan taring tersebut dengan brutal.
Di Persia, setelah Junayd tewas dalam pertempuran dan Haidar dieksekusi, Tarekat Syafawiyah nyaris musnah. Para pengikut Qizilbash diburu. Namun, dendam terlanjur disemai dan ia tumbuh liar di dada seorang anak laki-laki bernama Ismail.
Ismail kehilangan masa kecilnya di balik tembok penjara, melihat keluarganya dihabisi satu per satu karena urusan kekuasaan. Saat berhasil dibebaskan, ia tidak lagi memiliki sisa-sisa kedamaian yang dulu diajarkan leluhurnya, Safiuddin. Dendam dan fanatisme telah mengubahnya. Di usia yang tak berbeda jauh dengan Tariq—tujuh belas tahun—Ismail menggalang kembali sisa-sisa kekuatan Pasukan Baret Merah di Gilan. Ia mengubah pasukan itu menjadi armada perang paling mengerikan di daratan Persia.
Puncaknya terjadi pada tahun 1501 Masehi. Ismail, remaja yang dibesarkan oleh dendam politik itu, memimpin pasukan Qizilbash menerjang dan menaklukkan Tabriz. Di atas puing-puing penaklukan itulah ia memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama, menandai berdirinya Daulah Syafawiyah secara resmi.
Niat murni untuk membangun suaka kedamaian di Ardabil itu kini resmi mati. Ia digantikan oleh mesin politik absolut yang akan memaksakan satu keyakinan di bawah ancaman pedang, menyingkirkan kelompok mana pun yang menolak tunduk pada kekuasaannya yang baru.
“Jangan diambil,” ucap Tariq pelan namun tajam. Tangannya bergerak cepat menahan pergelangan temannya yang hendak memungut spidol. “Begitu lo pegang spidol itu, lo bukan lagi ngebela kelas. Lo cuma jadi alat buat kekerasan yang nggak ada ujungnya.”
Tariq menatap Raka tanpa berkedip. Menjadi pasif di tengah keburukan memang sebuah kesalahan, tapi membalas keburukan dengan menjadi penindas baru adalah sebuah tragedi yang jauh lebih menjijikkan.
Jika sebuah majelis pengajian suci saja bisa bermutasi menjadi mesin perang yang haus darah hanya karena tidak mampu mengendalikan ego kelompoknya, seberapa gampang amarah dan kebencian akan menghancurkan masa depanmu hari ini?
Tinggalkan Jejak Anda